Berjalan Kekanan dan Kekiri

Perdebatan perbincangan yang tidak menemukan titik temu kadang dapat menimbulkan perselisihan. Perselisihan karena kita terlalu mempertahankan argumen-argumen yang kita yakini, dengan menganggap pemikiran dari pasangan kita yang bertolak belakang, ada yang menyebutkan jalan kekiri dan jalan kekanan, atau jalan sendiri-sendiri.

Sejauh apakah kita berfikir, sepanjang apakah kita telah berpikir, sehingga apa yang sedang kita perbincangkan dengan pasangan kita kadang tidak menemukan titik temu. Betapa lemahnya daya pikir kita ketika kita tidak menemukan titik temu dikeduanya.

Kita hidup bukan pada dunia yang datar dan lurus, tanpa ujung titik temu, kita hidup dan tinggal di planet yang disebut bumi, yang berbentuk bulat lonjong. Ketika seseorang berjalan ke arah timur sedangkan yang lain berjalan ke arah barat, setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh keduanya bisa bertemu dalam satu titik daerah tertentu dipermukaan bumi. Begitulah sebenarnya ketika kita menghadapi pemikiran yang berlawanan dengan pasangan kita, seakanakan tidak pernah bertemu, cobalah untuk berpikir lebih jauh, berpikir lebihdewasagunakan nalar kita, maka jika kita dan pasangan kita mampu dan mau berpikr dengan jeli, berpikir dengan dewasa menggunakan nalar kita, kita akan menemukan titik temu, semua ini tergantung sejauh apa kita mau dan mampu berpikir untuk menyikapi perselisihan yang ada, jika kita telah dikalahkan oleh rasa putus asa maka titik temu tersebut tidak dapat ditemukan. Hanya usaha dan kemauan keras yang dapat mengalahkan jarak’ yang jauh untuk ditempuh guna menemukan kesepahaman dalam berfikir.

0 comments  

Pola Pikir Dalam Uang Logam

Pola pikir yang bersebrangan dan berbeda kadang bisa membuat sepasang kekasih untuk memutuskan hubungannya. Kadang ada yang bilang pola pikir kita bersebrangan, tidak pernah sama dan dapat disatukan. Pernyataan tersebut tentu pernah kita hadapi dalam hidup ini.

Kita perhatikan gambar sekeping uang logam 100 perak, satu sisi bergambarkan nominal nilai uang tersebut, sedang sisi yang lainnya bergambarkan sebuah simbol gambar. Keduanya berada pada sisi yang berlainan, keduanya berbeda dalam gambarnya, keduanya saling bertolak belakang. Tapi lihatlah kedua sisi uang logam tersebut dapat saling baersatu, walau mereka berbeda namun kedua sisi tersebut dapat bersatu. Apakah terdapat keburukan dari bersatunya perbedaan tersebut. Keduanya dapat bersatu dan dapat menunjukan sesuatu yang sangat berharga, keduannya menjadi bermanfaat dan memiliki nilai tambah.

Menyatukan pola pikir yang berlawanan membutuhkan waktu dan pemahaman di antara kedua pasangan. Satukan sisi yang berlawanan tersebut, satukanlah pola pikir yang bersebrangan tersebut, agar kehidupan kita menjadi indah dan lebih bermakna.

0 comments  

Lembaran Mozaik Kata

Mozaik prosa kehidupan tercantum pada bait-bait dan larik-larik yang saling bertautan. Bentangan huruf menysusun dalam satu kata, balutan kata-kata dalam sebuah frasa, kalimat penuh makna menyelipkan arti sebuah kehidupan, arti sebuah dunia nyata ataupun khayalan, kenikmatan yang dicari sebagian manusia. Kerangka kalimat menjadi penyusun sebuah lembaran-lembaran paragraf. Dunia tercipta di dalamnya.

Mata terbelalak menatapnya penuh tanda tanya, apakah yang tercantum di dalamnya, goresan apakah gerangan yang hendak disampaikan, ketidaktahuan tentang apa yang dilihat. Kenampakan yang sulit dipahami, kenampakan yang sukar untuk diucapkan. Lembaran dunia nyata, khayalan dan kenikmatan menggoreskan imajinasi Sang Pencipta. Dunia yang tercipta di dalamnya, takdir hanya milik Sang Pencipta yang mempunyai hak untuk mengatur dalam aturan-aturannya sendiri. Teori-teori praktis tercipta di dalamnya, imajinasi-imajinsi penuh konspirasi, tipu muslihat dan persuasif serta motivatif mewakili pemikiran Sang Pencipta. Demoktratisasi pemikiran, tak ada belenggu ajaran sosialis memenjarakan pemikiran itu, tak ada ketabuan kuno yang melanggar adat untuk membatasi Sang Pencipta menuangkannya, Liberalisme mewarnai lembaran-lembaran itu mengisahkan tentang dunia.

Rantai kata saling menyatu dan memisahkan dalam sebuah untaian kalimat, potongan kalimat saling memisah di antara titik. pertanyaan berlomba-lomba menyuarakan ketidaktahuan dalam sebuah tanda tanya. Teriakan kegembiraan, ketakutan, kecemasan, kemarahan termakhtup dalam sebuah seruan pemberhentian. Tak ada polisi yang akan memberhentikan ketika kita melaju dengan kencang, tak ada hakim dan jaksa yang akan mengetukkan palu ketika kita mengkorupsi tiap kata dalam lembaran-lembaran itu. Penjara tak akan pernah memenjarakan kebebasan itu, borgol tak akan menghentikan gerakan keluwesan tangan untuk membuka tiap lembaran-lembaran dunia, tak ada pistol yang akan menodong kepala kita untuk menghentikan perputaran imajinasi itu, gas air matapun tak akan menghalangi pandangan kita untuk menguak kepolosan lembaran itu.

Membuka tirai jendela dunia, menguak sebagian kecil dunia yang terhalang oleh keterbatasan, menyajikan pemandangan ketika kita menyibakkan kemalasan, daya tarik yang tersorot oleh sinar mata. Ketidak pedulian akan keberadaanya kadang dilakukan oleh sebagian orang, dan adakalanya kecintaan bak seorang cassanova melakukan perjalanan percintaannya untuk menguak tiap lembarannya. Penghilag dahaga bagi kehausan ditengah gurun, pengenyang keroncongan perut disaat lapar menyerang, racun yang siap menyerang tiap saraf, candu yang akan membius tiap pecandunya, darah yang segar bagi lintah penghisap.

Perjalanan jauh dalam berlembar-lembar halaman,puluhan, ratusan bahkan ribuan akan di tempuh. Kedalaman dunia kata akan terselami dalam sekejap hasrat yang memuncak. Terselip pembatas sebagai tanda pemberhentian, tanda pengingat dimana kita harus memulai perjalanan lagi. Perjalanan bisa secepat laju pesawat atau selambat kayuhan tukang becak, berjalan kaki tanpa alas, atau hanya sandal jepit sebagai pelindung kulit kaki. Tanjakan meninggi terlewati, menggelinding melalui turunan, berbelok menikung pada satu sisi jalan, mendaki tebing yang membentang tinggi, menuruni lembah yang membentang, tak ada kata menyerah untuk menguak tiap lembaran bagi Sang Penikmat.

Tempelan-tempelan mozaik kehidupan mewarnai tiap lembaran, mozaik-mozaik pemikiran tersusun dalam bingkai karangan. Warna-warni mozaik membentuk pola pemikiran, memeriahkan putihnya lembaran itu, bagai taburan bunga tujuh rupa di kain hitam pemujaan. Mozaik menempel dengan berbagai ukuran, berbagai segi, tak ada kepastian aturan tentang dimensi itu. Lembaran itu terus bersambung dalam halaman-halaman keindahan mozaik pemikiran, tersusun dalam indeks pengalamatan terurut, tak teracak dalam imajinsai yang berputar tak terarah. Mesin waktu berputar maju mengikuti indeks inkrementasi tiap halaman, namun tak ada halangan untuk ber-flash-back menengok lembaran dunia yang pernah dilalui, sedikit peristiwa deja vu membuat seakan-akan dunia itu telah berulang kita lewati. Dunia tidak selalu berputar terarah, kebebasan untuk menguak tiap lembar waktu yang pernah kita lewati, membolak-balik sebebas kita berimajinasai, kita bisa melompati beberapa lembar untuk mempercepat perjalanan.

Dunia yang tercipta karena kuasa Sang Pencipta, Sang Penikmat menikmati tiap lembar yang tercipta, menguak dunia yang terselubung dalam balutan sampul yang memikat. Selubung indah bagai selaput kepompong yang siap tersingkap bersama sobeknya pembungkus itu. Keindahan sampul takkan mewakili kilauan dunia didalamnya, keredupan dunia didalamnya tak secemerlang tirai peyikap dihiasan lembaran sampul. Kamuflase untuk menyembunyikan kekurangan dengan sedikit keangkuhan, atau sedikit kerendahan hati sebagai daya tarik tersendiri. Kain kafan bagi kematian suri dunia di dalamnya, selembar daun pisang yang membungkus kue, tak ada yang tau apa yang ada didalamnya, dunia suram atau dunia kegembiraan, kue yang mempunyai taste kelezatan atau hanya pengenyang perut, bak kepompong yang menyembunyikan kecantikan atau keburukan rupa bagi sang pemilik yang siap mengejutkan dunia dengan metamorfosisnya.

Berdegup kencang bersama imajinasi yang terus memuncak mengikuti putaran dunia di dalamnya, tangisan menetes dalam kesedihan akan dunia itu, kegembiraan menguak akan keberhasilan menikmati sebuah klimaks, kemarahan akan tak keberdayaan sang lakon, kebencian akan pertentangan batin tentang kebenaran. Menyajikan kejujuran atau kemunafikan, menyilaukan pandangan bahkan menyajikan keredupan yang pekat. Berdiri pada puncak tebing yang memacu adrenalin, berayun-ayun dalam ayunan disebuah taman, menikmati dunia dengan kacamata kita. Kewangian tiap kata dalam lembaran itu telah membius imajinasi Sang Penikmat.

Ketika kita menemukan tikungan yang berliku pada satu sudut alamat, menuruni turunan yang turun mendatar, sebuah anti klimaks dalam plot drama pementasan. Pemberhentian sebuah petualangan, kiamat dunia itu, akhir dari kuasa Sang Pencipta, awal sebuah babak baru bagi Sang Penikmat. Perpisahan bagi mereka, tetapi perpisahan yang akan menghadirkah sebuah babak baru. Candu yang akan terus membius dan membuat ketagihan, wangi bunga yang akan menaburkan semerbak kewangiannya, atau sebatang rokok yang hanya dinikmati beberapa hisap bersama hembusan asap, bahkan hanya semangkuk bakso pemuas perut keroncongan yang akan berakhir di pembuangan. Sebuah fantasi bagi Sang Penikmat, kucuran kepingan uang bagi Sang Pencipta, tak ada yang tahu apakah kerugian parasitisme ataupun keuntungan mutualisme bahkan komensalisme. Menikmati dunia itu dalam sandaran bantal tidur, menguak setiap lembar dalam kecermatan kalibrasi. Dunia itu diciptakan Sang Pencipta untuk menghadirkan dunia lain bagi Sang Penikmat.

0 comments  

Binatang Itu Bercinta

Berlarian digelap malam, melompat-lompat di atas atap langit-langit dunia kecil. Berjalan mengendap-ngendap dengan detakan jantung yang terus memacu, teriakan suara-suara birahi bercampur dengan lenguhan nafas yang semakin tak teratur. Sinar Sang Rembulan memancarkan sinar kemesraan dalam kegelapan malam. Bulu-bulu kelembutan mulai menegang, mengikuti panasnya aliran darah disekujur tubuh, kemolekan tubuh itu membius Sang Pecinta yang mulai memelototkan mata menahan hasrat untuk menerkam.

Perburuan kenikmatan itu berlanjut dalam drama pementasan Sang Pecinta di atas atap langit-langit dunia. Melompat di antara kanal-kanal dunia, berteriak memainkan irama syahdu bercampur dengan lantunan kidung cinta. Pasangan itu bermalu-malu untuk menuntaskan kenikmatan hasratnya. Berlari sambil berteriak mengganggu ketenangan dunia lain yang sedang terlelap dalam kelelahan tidur malam. Keributan itu mengganggu ketenangan malam, hasrat yang memuncak membuat lupa akan rasa toleransi, tak ada lagi tentang tenggang rasa, keegoisan itu menegaskan malam itu hanya milik mereka berdua.

Di atas atap langit-langit dunia, disudut kegelapan, Sang Pecinta sedang menikmati buruannya, menikmati kemolekan tubuh yang bercampur dengan kelembutun bulu yang mulai bercampur dengan peluh, bermandikan taburan sinar bulan yang menambahkan keromantisan di antara pergulatan cinta. Erangan suara itu bercampur dengan teriakan kenikmatan menikmati percintaan itu, semuanya berlangsung sekejap bersama meredahnya erangan itu.

Malam masih terus menampakan kegelapannya, Sang Rembulan masih setia menebarkan seberkas cahaya disekitar kabut awan yang menghitam. Perburuan itu masih berlanjut, percintaan memasuki babak baru, berlarian membawa suara-suara yang bercampur dengan birahi yang terus memuncak. Sang waktu pun seakan-akan enggan memutar waktu untuk menyudahi drama percintaan itu. Tirai masih terbuka lebar di atas panggung, sang lakon sedang memainkan perannya, Sang Permaisuri sedang duduk malas di singgasananya, Sang Pecinta mulai merayu dengan kidung mesra tentang arti cinta dan kenikmatan percintaan, bak seorang pujangga dadakan layaknya Ken Arok yang sedang merayu Ken Dedes dalam sejarah Kerajaan Singosari. Sang Permaisuri kembali terbuai dalam kemesraan Sang Pecinta, percintaan ini apakah sebuah ketulusan akan sebuah cinta atau hanya sebuah penyaluran syahwat yang berkedok cinta, di atas atap langit-langit percintaan itu berlanjut untuk merengkuh kepuasan birahi. Bulu-bulu yang lembut itu kini kembali beradu dalam lembabnya tetesan peluh yang mulai mengalir, bergeliat di antara pelukan yang semakin erat, sesekali gigitan mesra berbumbu nafsu mulai memerahi punggung Sang Permaisuri, gigitan yang sebenarnya terasa sakit kini seperti pijatan kemesraan yang terasa lembut dan menggairahkan. Bergeliat manja di antara pelukan Sang Pecinta, bercumbu mesra diujung kedua bibir, menjilat-jilat penuh arti membasahi bulu-bulu yang mulai kusut, cumbuan itu merupakan wujud kasih sayang dan perhatian, kecupan mesra sebuah ucapan terima kasih. Kenikmatan itu sekali lagi milik mereka berdua. Kegaduhan suara-suara teriakan dan erangan itu adalah kepuasan tentang percintaan. Percintaan yang sungguh indah malam itu, perburuan sebuah percintaan di atas atap langit-langit dunia.

Percintaan itu tak memerlukan sebuah pelajaran tentang percintaan yang termuat dalam lembaran- embaran kitab kamasutra ataupun serat centini. Tak perlu belajar tentang kursus permainan ranjang, tak perlu gaya doggy-style ataupun sixtynine untuk memainkan babak percintaan itu, tak ada layanan sashimie-girl di pentas itu untuk memikat Sang Pecinta, tak ada penetapan tarif untuk layanan short-time ataupun long-time. Bahkan tak perlu obat penguat sejenis viagra untuk meningkatkan vitalitas bagi Sang Pecinta ataupun senam kegel bagi Sang Permaisuri. Percintaan di antara dinginnya malam untuk merasakan kehangatan dalam erangan yang sekejap mata itu, sebuah foreplay berupa permainan "petak umpet" dan sedikit gigitan serta kecupan bercambur jilatan manja.

Wisata cinta itu telah mereka nikmati, tak perlu berlibur ke pulau dewata untuk menikmati "honey-moon" yang sebenarnya atau bahkan berlibur ke luar negeri, tak perlu layanan kamar berkelas president-suite untuk mendapatkan kenyamanan ranjang cinta. Drama percintaan itu sungguh terasa alami, kuasa Sang Khalik memberkati percintaan itu, tak ada peran "mak comblang" sebagai katalisator reaksi itu, tak ada perantara "germo" untuk mendapatkan pasangan bercinta menuntaskan nafsu birahi. Percintaan itu berlangsung di atas atap langit-langit dunia yang bertaburkan temaram sinar rembulan di antara remang-remang malam. Dunia menikmati pertunjukan drama percintaan yang tersuguhkan secara langsung, tontonan gratis yang tak di pungut pungutan liar sepeser pun untuk menyaksikannya. Malam ini terlewatkan dengan indah, pasangan bercinta itu kini tidur pulas berdua untuk mendapatkan kehangatan di malam yang semakin dingin, tidur pulas setelah permainan "petak umpet" yang menguras tenaga.

Sinar dari ufuk timur memerahkan langit, sinar bertanda kehidupan masih akan terus berlangsung, bersama dinginnya pagi yang membuat tubuh enggan untuk bangun, tubuh itu bangun perlahan-lahan, sedikit liukan "senam pagi" melemaskan otot-otot yang meregang setelah permainan semalam, meregangkan otot-otot kaki dan tangan, meliuk-liukan tulang-tulang punggung yang terasa kaku. Mandi pagi dengan sedikit jilatan-jilatan pada bulu-bulu yang terasa kusut, membersihkan muka dengan sedikit usapan tangan. Sang Permaisuri telah berdandan di pagi hari, tampak lebih segar dan wajah berseri-seri, membangunkan Sang Pecinta yang masih tertidur pulas, dengan sedikit belaian mesra dan kecupan pada kening pasangannya Sang Permaisuri membangunkan pasangannya, dengan mata yang terasa berat dan rasa kantuk bercampur malas masih menggantung di kelopak mata itu, Sang Pecinta bangun perlahan, dengan sedikit pelemasan pada otot-otot tangan dan kaki, serta meliuk-liukan tulang punggung yang terasa pegal setelah acara lari-lari semalam. Sang Permaisuri membantu memandikan pujaannya, mereka berdua membasuhi bulu-bulu itu, sesekali kecupan mesra, membersihkan kuku-kuku jari, mengusap bagian wajah yang nampak sedikit kusut. Pagi yang indah disudut dunia itu, kemesraan yang memunculkan kecemburuan dunia, kehangatan pagi membuat mereka bersemangat utuk beraktivitas bersama, sinar matahari akan menghangatkan tubuh-tubuh itu, berjemur dibawah sianr matahari, seakan-akan mandi sauna di sebuah spa dengan layanan plus, aktivitas mandi pagi kini berlangsung lebih mesra, keduanya bercumbu mesra dibawah sinar matahari, menjilati tubuh pasangannya dengan penuh perhatian.

Sarapan pagi telah tersedia di atas sebuah piring plastik, dengan sedikit nasi dan beberapa potong daging ikan pindang, menu biasa yang terasa spesial, menikmati makanan berdua, saling berbagi sesuap makanan. Asupan gizi berupa kabohidarat dan protein cukup untuk membuat tubuh menjadi sehat, cukup untuk stamina aktivitas malam ini, petualang cinta akan berlanjut malam ini. Dengan perut kenyang mereka menikmati jalan-jalan pagi ini mengitari sebagian dunia dengan rasa berbunga-bunga, dua sejoli sedang dimabuk cinta.

0 comments