Lembaran Mozaik Kata
Mozaik prosa kehidupan tercantum pada bait-bait dan larik-larik yang saling bertautan. Bentangan huruf menysusun dalam satu kata, balutan kata-kata dalam sebuah frasa, kalimat penuh makna menyelipkan arti sebuah kehidupan, arti sebuah dunia nyata ataupun khayalan, kenikmatan yang dicari sebagian manusia. Kerangka kalimat menjadi penyusun sebuah lembaran-lembaran paragraf. Dunia tercipta di dalamnya.Mata terbelalak menatapnya penuh tanda tanya, apakah yang tercantum di dalamnya, goresan apakah gerangan yang hendak disampaikan, ketidaktahuan tentang apa yang dilihat. Kenampakan yang sulit dipahami, kenampakan yang sukar untuk diucapkan. Lembaran dunia nyata, khayalan dan kenikmatan menggoreskan imajinasi Sang Pencipta. Dunia yang tercipta di dalamnya, takdir hanya milik Sang Pencipta yang mempunyai hak untuk mengatur dalam aturan-aturannya sendiri. Teori-teori praktis tercipta di dalamnya, imajinasi-imajinsi penuh konspirasi, tipu muslihat dan persuasif serta motivatif mewakili pemikiran Sang Pencipta. Demoktratisasi pemikiran, tak ada belenggu ajaran sosialis memenjarakan pemikiran itu, tak ada ketabuan kuno yang melanggar adat untuk membatasi Sang Pencipta menuangkannya, Liberalisme mewarnai lembaran-lembaran itu mengisahkan tentang dunia.
Rantai kata saling menyatu dan memisahkan dalam sebuah untaian kalimat, potongan kalimat saling memisah di antara titik. pertanyaan berlomba-lomba menyuarakan ketidaktahuan dalam sebuah tanda tanya. Teriakan kegembiraan, ketakutan, kecemasan, kemarahan termakhtup dalam sebuah seruan pemberhentian. Tak ada polisi yang akan memberhentikan ketika kita melaju dengan kencang, tak ada hakim dan jaksa yang akan mengetukkan palu ketika kita mengkorupsi tiap kata dalam lembaran-lembaran itu. Penjara tak akan pernah memenjarakan kebebasan itu, borgol tak akan menghentikan gerakan keluwesan tangan untuk membuka tiap lembaran-lembaran dunia, tak ada pistol yang akan menodong kepala kita untuk menghentikan perputaran imajinasi itu, gas air matapun tak akan menghalangi pandangan kita untuk menguak kepolosan lembaran itu.
Membuka tirai jendela dunia, menguak sebagian kecil dunia yang terhalang oleh keterbatasan, menyajikan pemandangan ketika kita menyibakkan kemalasan, daya tarik yang tersorot oleh sinar mata. Ketidak pedulian akan keberadaanya kadang dilakukan oleh sebagian orang, dan adakalanya kecintaan bak seorang cassanova melakukan perjalanan percintaannya untuk menguak tiap lembarannya. Penghilag dahaga bagi kehausan ditengah gurun, pengenyang keroncongan perut disaat lapar menyerang, racun yang siap menyerang tiap saraf, candu yang akan membius tiap pecandunya, darah yang segar bagi lintah penghisap.
Perjalanan jauh dalam berlembar-lembar halaman,puluhan, ratusan bahkan ribuan akan di tempuh. Kedalaman dunia kata akan terselami dalam sekejap hasrat yang memuncak. Terselip pembatas sebagai tanda pemberhentian, tanda pengingat dimana kita harus memulai perjalanan lagi. Perjalanan bisa secepat laju pesawat atau selambat kayuhan tukang becak, berjalan kaki tanpa alas, atau hanya sandal jepit sebagai pelindung kulit kaki. Tanjakan meninggi terlewati, menggelinding melalui turunan, berbelok menikung pada satu sisi jalan, mendaki tebing yang membentang tinggi, menuruni lembah yang membentang, tak ada kata menyerah untuk menguak tiap lembaran bagi Sang Penikmat.
Tempelan-tempelan mozaik kehidupan mewarnai tiap lembaran, mozaik-mozaik pemikiran tersusun dalam bingkai karangan. Warna-warni mozaik membentuk pola pemikiran, memeriahkan putihnya lembaran itu, bagai taburan bunga tujuh rupa di kain hitam pemujaan. Mozaik menempel dengan berbagai ukuran, berbagai segi, tak ada kepastian aturan tentang dimensi itu. Lembaran itu terus bersambung dalam halaman-halaman keindahan mozaik pemikiran, tersusun dalam indeks pengalamatan terurut, tak teracak dalam imajinsai yang berputar tak terarah. Mesin waktu berputar maju mengikuti indeks inkrementasi tiap halaman, namun tak ada halangan untuk ber-flash-back menengok lembaran dunia yang pernah dilalui, sedikit peristiwa deja vu membuat seakan-akan dunia itu telah berulang kita lewati. Dunia tidak selalu berputar terarah, kebebasan untuk menguak tiap lembar waktu yang pernah kita lewati, membolak-balik sebebas kita berimajinasai, kita bisa melompati beberapa lembar untuk mempercepat perjalanan.
Dunia yang tercipta karena kuasa Sang Pencipta, Sang Penikmat menikmati tiap lembar yang tercipta, menguak dunia yang terselubung dalam balutan sampul yang memikat. Selubung indah bagai selaput kepompong yang siap tersingkap bersama sobeknya pembungkus itu. Keindahan sampul takkan mewakili kilauan dunia didalamnya, keredupan dunia didalamnya tak secemerlang tirai peyikap dihiasan lembaran sampul. Kamuflase untuk menyembunyikan kekurangan dengan sedikit keangkuhan, atau sedikit kerendahan hati sebagai daya tarik tersendiri. Kain kafan bagi kematian suri dunia di dalamnya, selembar daun pisang yang membungkus kue, tak ada yang tau apa yang ada didalamnya, dunia suram atau dunia kegembiraan, kue yang mempunyai taste kelezatan atau hanya pengenyang perut, bak kepompong yang menyembunyikan kecantikan atau keburukan rupa bagi sang pemilik yang siap mengejutkan dunia dengan metamorfosisnya.
Berdegup kencang bersama imajinasi yang terus memuncak mengikuti putaran dunia di dalamnya, tangisan menetes dalam kesedihan akan dunia itu, kegembiraan menguak akan keberhasilan menikmati sebuah klimaks, kemarahan akan tak keberdayaan sang lakon, kebencian akan pertentangan batin tentang kebenaran. Menyajikan kejujuran atau kemunafikan, menyilaukan pandangan bahkan menyajikan keredupan yang pekat. Berdiri pada puncak tebing yang memacu adrenalin, berayun-ayun dalam ayunan disebuah taman, menikmati dunia dengan kacamata kita. Kewangian tiap kata dalam lembaran itu telah membius imajinasi Sang Penikmat.
Ketika kita menemukan tikungan yang berliku pada satu sudut alamat, menuruni turunan yang turun mendatar, sebuah anti klimaks dalam plot drama pementasan. Pemberhentian sebuah petualangan, kiamat dunia itu, akhir dari kuasa Sang Pencipta, awal sebuah babak baru bagi Sang Penikmat. Perpisahan bagi mereka, tetapi perpisahan yang akan menghadirkah sebuah babak baru. Candu yang akan terus membius dan membuat ketagihan, wangi bunga yang akan menaburkan semerbak kewangiannya, atau sebatang rokok yang hanya dinikmati beberapa hisap bersama hembusan asap, bahkan hanya semangkuk bakso pemuas perut keroncongan yang akan berakhir di pembuangan. Sebuah fantasi bagi Sang Penikmat, kucuran kepingan uang bagi Sang Pencipta, tak ada yang tahu apakah kerugian parasitisme ataupun keuntungan mutualisme bahkan komensalisme. Menikmati dunia itu dalam sandaran bantal tidur, menguak setiap lembar dalam kecermatan kalibrasi. Dunia itu diciptakan Sang Pencipta untuk menghadirkan dunia lain bagi Sang Penikmat.
0 comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
