Binatang Itu Bercinta
Berlarian digelap malam, melompat-lompat di atas atap langit-langit dunia kecil. Berjalan mengendap-ngendap dengan detakan jantung yang terus memacu, teriakan suara-suara birahi bercampur dengan lenguhan nafas yang semakin tak teratur. Sinar Sang Rembulan memancarkan sinar kemesraan dalam kegelapan malam. Bulu-bulu kelembutan mulai menegang, mengikuti panasnya aliran darah disekujur tubuh, kemolekan tubuh itu membius Sang Pecinta yang mulai memelototkan mata menahan hasrat untuk menerkam.Perburuan kenikmatan itu berlanjut dalam drama pementasan Sang Pecinta di atas atap langit-langit dunia. Melompat di antara kanal-kanal dunia, berteriak memainkan irama syahdu bercampur dengan lantunan kidung cinta. Pasangan itu bermalu-malu untuk menuntaskan kenikmatan hasratnya. Berlari sambil berteriak mengganggu ketenangan dunia lain yang sedang terlelap dalam kelelahan tidur malam. Keributan itu mengganggu ketenangan malam, hasrat yang memuncak membuat lupa akan rasa toleransi, tak ada lagi tentang tenggang rasa, keegoisan itu menegaskan malam itu hanya milik mereka berdua.
Di atas atap langit-langit dunia, disudut kegelapan, Sang Pecinta sedang menikmati buruannya, menikmati kemolekan tubuh yang bercampur dengan kelembutun bulu yang mulai bercampur dengan peluh, bermandikan taburan sinar bulan yang menambahkan keromantisan di antara pergulatan cinta. Erangan suara itu bercampur dengan teriakan kenikmatan menikmati percintaan itu, semuanya berlangsung sekejap bersama meredahnya erangan itu.
Malam masih terus menampakan kegelapannya, Sang Rembulan masih setia menebarkan seberkas cahaya disekitar kabut awan yang menghitam. Perburuan itu masih berlanjut, percintaan memasuki babak baru, berlarian membawa suara-suara yang bercampur dengan birahi yang terus memuncak. Sang waktu pun seakan-akan enggan memutar waktu untuk menyudahi drama percintaan itu. Tirai masih terbuka lebar di atas panggung, sang lakon sedang memainkan perannya, Sang Permaisuri sedang duduk malas di singgasananya, Sang Pecinta mulai merayu dengan kidung mesra tentang arti cinta dan kenikmatan percintaan, bak seorang pujangga dadakan layaknya Ken Arok yang sedang merayu Ken Dedes dalam sejarah Kerajaan Singosari. Sang Permaisuri kembali terbuai dalam kemesraan Sang Pecinta, percintaan ini apakah sebuah ketulusan akan sebuah cinta atau hanya sebuah penyaluran syahwat yang berkedok cinta, di atas atap langit-langit percintaan itu berlanjut untuk merengkuh kepuasan birahi. Bulu-bulu yang lembut itu kini kembali beradu dalam lembabnya tetesan peluh yang mulai mengalir, bergeliat di antara pelukan yang semakin erat, sesekali gigitan mesra berbumbu nafsu mulai memerahi punggung Sang Permaisuri, gigitan yang sebenarnya terasa sakit kini seperti pijatan kemesraan yang terasa lembut dan menggairahkan. Bergeliat manja di antara pelukan Sang Pecinta, bercumbu mesra diujung kedua bibir, menjilat-jilat penuh arti membasahi bulu-bulu yang mulai kusut, cumbuan itu merupakan wujud kasih sayang dan perhatian, kecupan mesra sebuah ucapan terima kasih. Kenikmatan itu sekali lagi milik mereka berdua. Kegaduhan suara-suara teriakan dan erangan itu adalah kepuasan tentang percintaan. Percintaan yang sungguh indah malam itu, perburuan sebuah percintaan di atas atap langit-langit dunia.
Percintaan itu tak memerlukan sebuah pelajaran tentang percintaan yang termuat dalam lembaran- embaran kitab kamasutra ataupun serat centini. Tak perlu belajar tentang kursus permainan ranjang, tak perlu gaya doggy-style ataupun sixtynine untuk memainkan babak percintaan itu, tak ada layanan sashimie-girl di pentas itu untuk memikat Sang Pecinta, tak ada penetapan tarif untuk layanan short-time ataupun long-time. Bahkan tak perlu obat penguat sejenis viagra untuk meningkatkan vitalitas bagi Sang Pecinta ataupun senam kegel bagi Sang Permaisuri. Percintaan di antara dinginnya malam untuk merasakan kehangatan dalam erangan yang sekejap mata itu, sebuah foreplay berupa permainan "petak umpet" dan sedikit gigitan serta kecupan bercambur jilatan manja.
Wisata cinta itu telah mereka nikmati, tak perlu berlibur ke pulau dewata untuk menikmati "honey-moon" yang sebenarnya atau bahkan berlibur ke luar negeri, tak perlu layanan kamar berkelas president-suite untuk mendapatkan kenyamanan ranjang cinta. Drama percintaan itu sungguh terasa alami, kuasa Sang Khalik memberkati percintaan itu, tak ada peran "mak comblang" sebagai katalisator reaksi itu, tak ada perantara "germo" untuk mendapatkan pasangan bercinta menuntaskan nafsu birahi. Percintaan itu berlangsung di atas atap langit-langit dunia yang bertaburkan temaram sinar rembulan di antara remang-remang malam. Dunia menikmati pertunjukan drama percintaan yang tersuguhkan secara langsung, tontonan gratis yang tak di pungut pungutan liar sepeser pun untuk menyaksikannya. Malam ini terlewatkan dengan indah, pasangan bercinta itu kini tidur pulas berdua untuk mendapatkan kehangatan di malam yang semakin dingin, tidur pulas setelah permainan "petak umpet" yang menguras tenaga.
Sinar dari ufuk timur memerahkan langit, sinar bertanda kehidupan masih akan terus berlangsung, bersama dinginnya pagi yang membuat tubuh enggan untuk bangun, tubuh itu bangun perlahan-lahan, sedikit liukan "senam pagi" melemaskan otot-otot yang meregang setelah permainan semalam, meregangkan otot-otot kaki dan tangan, meliuk-liukan tulang-tulang punggung yang terasa kaku. Mandi pagi dengan sedikit jilatan-jilatan pada bulu-bulu yang terasa kusut, membersihkan muka dengan sedikit usapan tangan. Sang Permaisuri telah berdandan di pagi hari, tampak lebih segar dan wajah berseri-seri, membangunkan Sang Pecinta yang masih tertidur pulas, dengan sedikit belaian mesra dan kecupan pada kening pasangannya Sang Permaisuri membangunkan pasangannya, dengan mata yang terasa berat dan rasa kantuk bercampur malas masih menggantung di kelopak mata itu, Sang Pecinta bangun perlahan, dengan sedikit pelemasan pada otot-otot tangan dan kaki, serta meliuk-liukan tulang punggung yang terasa pegal setelah acara lari-lari semalam. Sang Permaisuri membantu memandikan pujaannya, mereka berdua membasuhi bulu-bulu itu, sesekali kecupan mesra, membersihkan kuku-kuku jari, mengusap bagian wajah yang nampak sedikit kusut. Pagi yang indah disudut dunia itu, kemesraan yang memunculkan kecemburuan dunia, kehangatan pagi membuat mereka bersemangat utuk beraktivitas bersama, sinar matahari akan menghangatkan tubuh-tubuh itu, berjemur dibawah sianr matahari, seakan-akan mandi sauna di sebuah spa dengan layanan plus, aktivitas mandi pagi kini berlangsung lebih mesra, keduanya bercumbu mesra dibawah sinar matahari, menjilati tubuh pasangannya dengan penuh perhatian.
Sarapan pagi telah tersedia di atas sebuah piring plastik, dengan sedikit nasi dan beberapa potong daging ikan pindang, menu biasa yang terasa spesial, menikmati makanan berdua, saling berbagi sesuap makanan. Asupan gizi berupa kabohidarat dan protein cukup untuk membuat tubuh menjadi sehat, cukup untuk stamina aktivitas malam ini, petualang cinta akan berlanjut malam ini. Dengan perut kenyang mereka menikmati jalan-jalan pagi ini mengitari sebagian dunia dengan rasa berbunga-bunga, dua sejoli sedang dimabuk cinta.
0 comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
